BUNTOK, BNN – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau menjadi perhatian Pemkab Barito Selatan (Barsel). Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Barsel meminta seluruh pemerintah desa meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat pengawasan di wilayah masing-masing.
Kepala DPMD Barsel, Ahmad Akmal Husaen, mengatakan bahwa pemerintah desa memiliki peran penting dalam upaya pencegahan karhutla karena berada di posisi paling dekat dengan lokasi dan masyarakat.
Menurutnya, potensi kebakaran harus diantisipasi sejak munculnya tanda-tanda awal. Jangan sampai api kecil yang seharusnya bisa segera dipadamkan justru berkembang menjadi kebakaran besar, kemudian menimbulkan kabut asap.
“Peran aktif aparatur di tingkat desa menjadi salah satu benteng pertahanan terdepan dalam meredam risiko bencana sebelum meluas. Selain itu, juga membangun komunikasi persuasif dengan warga agar kesadaran menjaga lingkungan menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya di Buntok, Rabu (16/9/26).
Akmal menilai aparatur desa memiliki keunggulan karena memahami kondisi geografis dan karakter masyarakat di wilayahnya. Dengan pemantauan secara rutin, keberadaan titik api maupun aktivitas warga yang berpotensi memicu kebakaran dapat diketahui lebih cepat.
“Perangkat desa adalah pihak yang paling memahami kondisi geografis dan karakter masyarakat di wilayahnya. Karena itu, peran aktif aparat desa dalam melakukan pengawasan langsung dan edukasi berkelanjutan sangat krusial agar tidak ada warga yang membuka lahan dengan cara membakar,” imbuhnya.
DPMD juga mendorong kepala desa bersama perangkatnya memperkuat koordinasi dengan masyarakat, relawan dan instansi terkait. Patroli di kawasan yang dianggap rawan perlu dilakukan secara berkala, terutama ketika kondisi cuaca semakin panas dan kering.
Apabila ditemukan adanya titik api, sambungnya informasi tersebut diharapkan segera dilaporkan kepada pihak terkait sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Akmal menegaskan, pencegahan merupakan langkah paling efektif dalam menghadapi karhutla. Penanganan yang terlambat tidak hanya membutuhkan tenaga dan biaya besar, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan warga, aktivitas ekonomi serta kualitas lingkungan.
“Kita ketahui bahwa penanganan karhutla selalu menyita energi dan biaya luar biasa besar jika penanggulangannya baru dilakukan saat asap tebal sudah membumbung tinggi. Oleh karena itu, upaya preventif dari pemerintahan desa menjadi faktor utama dalam menjaga ekologis daerah, tetap aman dari ancaman karhutla di musim kemarau ini,” pungkasnya. (*/Red 2)












