Nasional

Istana Ungkap Prabowo Beri Atensi Tragedi Bocah SD Bunuh Diri di NTT

Avatar
16
×

Istana Ungkap Prabowo Beri Atensi Tragedi Bocah SD Bunuh Diri di NTT

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, BNN –  Presiden RI Prabowo Subianto memberikan atensi khusus atas tragedi anak SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bunuh diri akibat tak mampu membeli peralatan tulis.

“Bapak Presiden menaruh atensi dan meminta kami untuk berkoordinasi supaya ke depan hal-hal yang semacam ini dapat kita antisipasi,” kata Mensesneg Prasetyo Hadi di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/2/26).

Pras menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas tragedi tersebut. Ia juga menyebut telah berkoordinasi dengan jajaran terkait agar kejadian itu juga tak terulang lagi ke depannya.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Mendagri, dan sudah berkoordinasi dengan Menteri Sosial untuk melakukan penanganan terhadap keluarga dan terutama memikirkan supaya kejadian ini tak terulang kembali,” ucap dia.

Ia mengatakan ke depan pemerintah juga akan mengevaluasi data penerima manfaat bantuan pemerintah. Seorang siswa SD inisial YBS ditemukan tewas tergantung di sebuah dahan pohon cengkeh, Kamis (29/1/26) pekan lalu.

Tempat kejadian perkara tak jauh dari pondok tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun. Dalam penyelidikan di TKP, petugas kepolisian menemukan surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada ibunda korban.

Dalam foto surat itu yang ditulis tangan dalam bahasa Ngada. Dalam surat tersebut, YBS meminta ibundanya untuk merelakan dia pergi lebih dulu. Lewat surat itu juga ia menulis agar ibunda merelakannya, tak perlu menangis, mencari, atau merindukannya.

Pada bagian akhir tulisan tangan bocah berusia 10 tahun tersebut terdapat gambar yang menyerupai emoji dengan wajah menangis.

Dari pemeriksaan kepolisian, diduga sebelum ditemukan tewas tergantung, YBS sempat meminta uang untuk membeli buku tulis dan pena seharga Rp10 ribu kepada ibunya.

Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena ibundanya tidak memiliki uang yang cukup.

Ibunda korban, MGT (47) mengaku pada malam sebelum kejadian, korban sempat menginap di rumahnya. Lalu keesokan paginya, sekitar pukul 06.00 WITA, ia meminta tukang ojek untuk mengantarkan korban ke pondok neneknya.

Ibunda korban mengaku pernah memberikan nasihat terakhir agar anaknya tetap rajin bersekolah.

Dari pemeriksaan polisi, ibunda korban mengaku kondisi ekonomi keluarga tergolong terbatas dan menghadapi berbagai kekurangan. (*/red2)