Barito Selatan

BPBD Sebut Jumlah Titik Panas Akibat Karhutla di Barsel Mengalami Penurunan

Avatar
7
×

BPBD Sebut Jumlah Titik Panas Akibat Karhutla di Barsel Mengalami Penurunan

Sebarkan artikel ini

BUNTOK, BNN – Jumlah titik panas (hotspot) di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), dilaporkan anjlok dari 97 menjadi hanya 4 titik. Namun, penurunan drastis tersebut belum menjamin ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah berakhir.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla melalui laman Sipongi, Selasa (13/10/26), empat titik panas terdeteksi di Kecamatan Dusun Hilir. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan sehari sebelumnya, ketika 97 titik panas terpantau tersebar di 5 kecamatan, dengan konsentrasi terbanyak di Kecamatan Dusun Hilir dan Dusun Selatan.

Penurunan tersebut menjadi perkembangan positif dalam penanganan karhutla. Meski demikian, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, meminta masyarakat tidak lengah karena asap masih terlihat di sejumlah kawasan.

Kepala Pelaksana BPBD Barsel, Agus In’ Yulius, melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik, Edi Darmadi, menyambut baik penurunan jumlah titik panas tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi di lapangan masih membutuhkan kewaspadaan.

“Kita bersyukur karena hotspot di Barsel saat ini kembali turun. Namun, masyarakat tetap harus waspada karena kabut asap masih cukup tebal,” ujar Edi.

Menurutnya, berkurangnya titik panas yang terdeteksi satelit tidak serta-merta menandakan seluruh titik kebakaran telah padam. Terlebih, kebakaran di kawasan gambut dapat menyisakan bara di bawah permukaan tanah yang sulit terdeteksi secara kasatmata.

“Bara tersebut berpotensi menghasilkan asap dan kembali memicu kebakaran apabila kondisi lingkungan mendukung. Karena itu, pemantauan lapangan, pemadaman, dan pendinginan lahan tetap diperlukan meskipun jumlah hotspot menurun,” jelasnya.

Ditengah penurunan jumlah titik panas, kondisi kualitas udara di Barito Selatan masih mengkhawatirkan. Edi menyebut bahwa konsentrasi partikulat PM10 berada di kisaran 1.000, sedangkan PM2.5 sekitar 652.

“Angka ini perlu disertai informasi mengenai satuan, waktu pengukuran, dan sumber pemantauan agar tingkat risiko kualitas udara dapat dinilai secara tepat. Tanpa keterangan itu, angka tersebut belum cukup untuk memastikan kategori kualitas udara,” ujarnya.

Lebih jauh dikatakan Edi, paparan partikel halus dari asap karhutla dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak. Bagi warga yang beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker untuk membantu mengurangi paparan partikel asap.

“Kondisi udara di wilayah Barsel saat ini masih tergolong berbahaya, untuk itu kami mengimbau masyarakat agar menggunakan masker apabila beraktivitas di luar rumah,” imbuhnya. (*/Red 1)