Barito Selatan

Hotspot Karhutla di Barsel Capai 4.965 Titik dan 9.894 Warga Terpapar ISPA

Avatar
6
×

Hotspot Karhutla di Barsel Capai 4.965 Titik dan 9.894 Warga Terpapar ISPA

Sebarkan artikel ini

BUNTOK, BNN – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Barito Selatan (Barsel), terus menjadi perhatian serius karena berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat, tingginya jumlah titik panas disertai kabut asap turut meningkatkan risiko gangguan pernapasan (ISPA).

Kepala Pelaksana BPBD Barsel Agus In’yulius menjelaskan, penanganan karhutla telah berlangsung selama tiga bulan dengan melibatkan tim gabungan dari berbagai unsur, meskipun upaya pemadaman terus dilakukan, karhutla masih terjadi menjadi tantangan petugas di lapangan.

Menurutnya, dampak karhutla tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat akibat kabut asap, tetapi juga menyebabkan kerusakan ekosistem hutan yang berpotensi mengancam kelangsungan hidup berbagai jenis tumbuhan dan satwa.

“Jumlah titik panas di wilayah Barsel kini terpantau 700 titik, sebelumnya berdasarkan data BPBD, peningkatan hotspot mulai terlihat pada Agustus 2026 dengan jumlah 2.389 titik dan bertambah mencapai 4.965 titik di September 2026.” ucapnya saat Pers Release di Aula Kantor BPBD Barsel, Jumat (16/10/26).

Ia menegaskan, penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak dan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada petugas pemadam. Karena itu, dukungan pemerintah serta kesadaran masyarakat dalam mencegah kebakaran menjadi bagian penting untuk menekan perluasan area terdampak.

Agus juga berharap adanya dukungan lebih lanjut dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat agar upaya penanggulangan karhutla di Barito Selatan dapat berjalan lebih optimal, sekaligus mempercepat pemulihan lingkungan dan mengembalikan aktivitas normal masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Barsel dr. Dadang Baskoro Nugroho menyampaikan, kabut asap akibat karhutla turut menjadi perhatian sektor kesehatan karena berisiko menimbulkan gangguan pernapasan, terutama warga yang beraktivitas out door dalam kondisi udara tercemar.

“Berdasarkan data Dinas Kesehatan Barsel, tercatat sebanyak 1.295 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada Agustus 2026 dan 1.143 kasus pada September 2026, sedangkan hingga 15 Oktober 2026, jumlah kumulatif kasus yang tercatat mencapai 9.894 kasus.” ungkap Dadang.

Untuk menunjang pelayanan, pihaknya mengandalkan 12 puskesmas serta rumah oksigen yang tersebar di wilayah setempat, fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh penanganan dini ketika mengalami gangguan kesehatan akibat kondisi lingkungan.

Dinkes juga terus mengupayakan pelayanan bagi warga yang mengalami keluhan selama kabut asap berlangsung, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas atau gejala pernapasan yang memburuk.

“Kita mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap dengan menggunakan masker saat berada di luar rumah dan membatasi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak. Selain itu tetap lah menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi sesuai kebutuhan,” pungkasnya.

Penanganan karhutla dan perlindungan kesehatan masyarakat diharapkan berjalan beriringan melalui kerja sama pemerintah, petugas gabungan, dan warga, agar dampak karhutla di Barito Selatan bisa ditekan dan kondisi ekologis berangsur pulih. (*/Red 1)