Barito Timur

Kematian Remaja 17 Tahun di Bartim Akibat Gagal Napas Akut, Ditengah Kabut Asap Karhutla

Avatar
11
×

Kematian Remaja 17 Tahun di Bartim Akibat Gagal Napas Akut, Ditengah Kabut Asap Karhutla

Sebarkan artikel ini

TAMIANG LAYANG, BNN – Seorang remaja bernama Ronan Giovinco (17) asal Kelurahan Taniran, Kecamatan Benua Lima, Kabupaten Barito Timur (Bartim), meninggal dunia setelah mengalami sesak napas dan mendapatkan penanganan di IGD RSUD Tamiang Layang, Minggu (20/9/26) dini hari.

Peristiwa tersebut terjadi mana kala wilayah Kabupaten Barito Timur masih menghadapi kepungan karhutla dan kabut asap pekat, bahkan dengan kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah berada pada kategori Berbahaya.

Kepala Dinas Kesehatan Bartim dr. Jimmi W.S. Hutagalung, mengungkap diagnosis dokter tidak menyatakan kabut asap sebagai penyebab langsung kematian korban. Sebutnya, hubungan antara paparan asap karhutla dengan meninggalnya korban belum bisa disimpulkan tanpa pemeriksaan medis lebih lanjut. 

Berdasarkan keterangan medis, ujar Jimmi, korban sempat mengalami batuk dan pilek sekitar satu pekan sebelum meninggal. Keluhan itu pun dilaporkan telah sembuh, dan korban juga tidak memiliki riwayat asma maupun alergi. 

Pada Jumat (18/9/26), Ronan mulai mengalami demam dan merasa tidak enak badan, meski masih dapat menjalankan aktivitas seperti biasa. Kondisinya menurun pada Sabtu (19/9/26). Memasuki Minggu sekitar pukul 02.00 WIB, ia mengalami sesak napas sehingga keluarga membawanya ke IGD RSUD Tamiang Layang.

Setelah mendapatkan penanganan medis, Ronan dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 03.55 WIB. Diagnosis yang disampaikan Dinkes penyebabnya adalah ARDS atau gagal napas akut. 

Jimmi menjelaskan kondisi udara yang dipengaruhi kabut asap dapat memengaruhi pernapasan, terutama terhadap seseorang yang sebelumnya telah mengalami keluhan pada saluran pernapasan.

“Pasien mengalami batuk terlebih dahulu. Kemudian dengan adanya situasi kabut asap sekarang, bisa saja memengaruhi pernapasan pasien,” kata Jimmi, Senin (21/9/26). 

Keterangan Dinkes Bartim tidak menyatakan Ronan meninggal secara langsung akibat kabut asap karhutla. Keterangan medis yang disampaikan adalah gagal napas dengan diagnosis ARDS. 

Pihaknya mengingatkan warga agar tidak mengabaikan batuk, sesak napas, tubuh yang semakin lemah maupun kesulitan bernapas selama kualitas udara masih buruk. Kematian Ronin terjadi saat kualitas udara Bartim berada pada tingkat yang sangat buruk.

Kualitas Udara Bartim Masih Kategori Berbahaya

Data Dashboard Karhutla BPBD dan Damkar Bartim pada 20 September menunjukkan rata-rata ISPU selama 7 hari terakhir mencapai 761,3, atau berada pada kategori Berbahaya. Bahkan, 10 kecamatan dalam pembaruan dashboard per 20 September dilaporkan pada kategori Berbahaya.

Kecamatan Benua Lima, tempat Kelurahan Taniran berada, tercatat memiliki ISPU 924. Sementara angka tertinggi dilaporkan berada di Dusun Timur dengan ISPU 1.706, disusul Raren Batuah 1.518 dan Dusun Tengah 1.203. 

Berdasarkan informasi dari BPBD dan Damkar Bartim dilaporkan bahwa hingga Minggu (20/9/26) terdapat 606 kejadian karhutla, dengan total luas lahan terbakar mencapai sekitar 827 hektare. 

Pemkab Bartim sendiri telah menetapkan Status Tanggap Darurat Karhutla sejak 24 Agustus hingga 30 September 2026. Pemerintah daerah juga memetakan enam posko dan menggeser kekuatan personel lebih dekat ke daerah yang memiliki tingkat kejadian kebakaran tinggi. 

Dinas Kesehatan Bartim mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara berada pada kategori Berbahaya, serta menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. 

Dengan adanya kasus kematian remaja di Bartim ini sekaligus menjadi pengingat agar keluhan pernapasan tidak dianggap ringan di tengah paparan kabut asap yang hingga saat ini masih berlangsung. (*/Red 1)