Kotawaringin Timur

Pendangkalan Sungai Mentaya Jadi Hambatan Kapal Besar Masuk Pelabuhan Sampit

Avatar
6
×

Pendangkalan Sungai Mentaya Jadi Hambatan Kapal Besar Masuk Pelabuhan Sampit

Sebarkan artikel ini

SAMPIT, BNN – Pendangkalan alur Sungai Mentaya hingga saat ini masih menjadi salah satu kendala pelayaran menuju Pelabuhan Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.

Kondisi tersebut membuat kapal berukuran besar belum dapat masuk ke pelabuhan secara optimal. Karena harus menyesuaikan perjalanan dengan kondisi pasang surut agar dapat melewati bagian alur yang dangkal.

Kepala Dinas Perhubungan Kotim, Raihansyah, mengatakan keterbatasan kedalaman alur menjadi hambatan bagi kapal berkapasitas lebih besar. Menurutnya, kapal harus menunggu air pasang di muara sebelum masuk ke Sungai Mentaya, kondisi yang berdampak pada biaya operasional perusahaan pelayaran.

“Sejauh ini kondisi kedalaman alur sungai Mentaya masih menjadi kendala bagi kapal berukuran besar untuk masuk secara optimal ke Pelabuhan Sampit,” ungkap Raihansyah. Minggu (4/10/26).

Ia juga menyebut waktu tunggu akibat pasang surut menambah biaya operasional kapal dan mengurangi efisiensi pelayaran. Dishub Kotim telah berkoordinasi dengan KSOP serta mengusulkan pengerukan alur kepada pemerintah pusat.

“Kapal masih harus menyesuaikan waktu masuk dengan pasang surut, sehingga efisiensi perjalanan dan biaya operasional menjadi persoalan yang perlu diselesaikan,” ujarnya.

Persoalan ini bukan lah isu baru. Anggota DPRD Kotim, Zainuddin, pada Maret 2026 menyebut alur Sungai Mentaya dari muara di perairan Ujung Pandaran hingga kawasan Pelangsian sudah cukup lama tidak dilakukan pengerukan.

Pendangkalan sebutnya membuat kapal menuju Pelabuhan Sampit maupun Pelabuhan Bagendang tidak dapat melintas secara bebas dan harus menunggu kondisi air yang memungkinkan. Kondisi itu dinilai mengurangi efisiensi aktivitas logistik.

Senada, anggota DPRD Kalimantan Tengah, Sudarsono, menyoroti persoalan yang sama ketika memantau aktivitas Pelabuhan Sampit belum lama ini. Ia menilai pendangkalan Sungai Mentaya perlu mendapat perhatian bersama, karena berkaitan dengan kelancaran transportasi dan aktivitas pelabuhan.

“Pendangkalan alur Mentaya bukan hanya persoalan navigasi kapal, tetapi berkaitan dengan kelancaran aktivitas pelabuhan dan berpengaruh pada arus distribusi barang di Kotawaringin Timur,” tukasnya. (*/Red 2)