Barito Selatan

Status Tanggap Darurat di Barsel Sangat Dinamis, Akses Medan jadi Kendala Hadapi Karhutla

Avatar
7
×

Status Tanggap Darurat di Barsel Sangat Dinamis, Akses Medan jadi Kendala Hadapi Karhutla

Sebarkan artikel ini

BUNTOK, BNN – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih membayangi di wilayah Kabupaten Barito Selatan (Barsel), memaksa Pemkab setempat bersiap mengambil langkah antisipasi lanjutan.

Begitupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barsel berpeluang memperpanjang status masa tanggap darurat guna mengoptimalkan upaya pemadaman di lapangan.

Masa penetapan status tanggap darurat yang berjalan selama satu bulan tersebut dijadwalkan berakhir pada 5 September 2026 mendatang. Ketetapan ini sebelumnya diambil setelah terjadi lonjakan titik panas (hotspot) yang signifikan.

Kepala BPBD Barsel, Agus In’yulius, menegaskan bahwa perpanjangan masa tanggap darurat sangat bergantung pada dinamika cuaca serta potensi kerawanan kebakaran dalam beberapa hari ke depan.

“Masa tanggap darurat berlaku 30 hari hingga 5 September mendatang. Namun, durasi ini sangat dinamis dan bisa saja kami perpanjang jika kondisi lapangan masih berisiko tinggi,” ujarnya di Buntok, Senin (31/8/26).

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa proses pemadaman api di lapangan, sempat diwarnai kendala teknis, terutama terkait pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk moda transportasi serta mesin pompa air.

Kendala itu muncul akibat sering terjadinya kekosongan stok BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) area Buntok, dan bukan disebabkan oleh keterbatasan alokasi anggaran.

“Untuk kendala BBM ini lebih karena faktor ketersediaannya di SPBU. Ketika kita harus mengisi BBM di SPBU, BBM-nya yang tidak ada. Jadi, bukan karena soal anggaran,” ungkapnya.

Guna mengatasi hambatan ketersediaan BBM mendesak tersebut, BPBD Barsel telah bergerak cepat menjalin kolaborasi strategis dengan aparat kepolisian setempat.

“Masalah pasokan BBM kini sudah terurai berkat sinergi dengan pihak Polres. Kapolres mengizinkan kami memanfaatkan cadangan BBM milik Polres untuk kebutuhan operasional mendesak, sehingga pergerakan tim di lapangan tak lagi terhambat,” kata Agus.

Ia juga memastikan pasokan konsumsi dan logistik dalam kondisi memadai. Mengenai armada dan piranti pemadaman yang sempat menyalami kerusakan, perbaikan teknisnya terus dilakukan secara berkala.

“Kalau untuk operasional personel, khususnya untuk konsumsi (makan minum). Sejauh yang saya tahu sampai saat ini enggak ada kendala,” tukas Agus.

Namun, tantangan terberat tim Satgas karhutla saat ini, menurutnya bukanlah masalah logistik atau operasional kendaraan (BBM), melainkan kondisi geografis serta sebaran titik api yang makin meluas.

“Hambatan paling krusial saat ini adalah luasnya area terbakar, sebaran hotspot yang masif, serta akses medan yang sulit ditembus. Meski demikian, berkat koordinasi yang solid, hambatan operasional sejauh ini bisa ditangani dengan baik,” pungkasnya. (*/Red 2)