SAMPIT, BNN – Penggarapan film Tanah Dayak yang berlatar tragedi Sampit, kini menyita perhatian banyak pihak. Film tersebut, akan dibuat dengan genre horor saat tragedi Sampit terjadi di 2001.
Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyatakan dukungannya terhadap produksi film horor yang digarap oleh rumah produksi Borneo Picture itu.
Dukungan tersebut diberikan sepanjang penggarapan film dilakukan secara serius, menghormati nilai adat, serta menyajikan cerita yang berimbang antara unsur horor, budaya, dan kemanusiaan.
Ketua Harian DAD Kotim, Gahara, mengatakan kehadiran sutradara yang tertarik mengangkat dunia perfilman Kalteng merupakan hal yang sangat positif, terutama jika dikemas dengan pendekatan dari berbagai aspek.
“Saya sangat mendukung sutradara yang tertarik mengangkat perfilman di Kalimantan Tengah. Dari info yang saya dengar, memang lebih ke cerita mistis dan horor. Saya setuju, tapi harus didukung fakta-fakta sejarah dari sumber orisinil,” ujarnya, Senin (9/2/26).
Menurutnya, film berlatar budaya dan sejarah lokal tidak melulu terpaku pada satu aspek. Tetapi lanjutnya, perlu dihiasi dengan alur cerita yang menarik dan berlapis. Hal itu agar lebih bisa penontonnya lebih luas.
“Alur ceritanya harus dibuat menarik. Ada horornya, ada lucunya, ada romantisnya juga. Jadi tidak kaku dan tidak satu warna. Film itu harus hidup,” tegasnya.
Gahara mencontohkan film Kuyang versi Banjar yang mampu viral secara nasional karena tidak hanya mengandalkan unsur horor, tetapi juga mengangkat budaya lokal secara natural dan kuat.
“Kita belajar dari film Kuyang. Di situ ada budaya, ada tradisi, seperti lomba dayung. Unsur budaya itu justru membuat filmnya menarik dan berbeda,” katanya.
Ia menilai konsep serupa sangat relevan jika diterapkan dalam film berlatar Dayak di Kalimantan Tengah, karena selain memperkuat identitas lokal, juga membuka peluang promosi budaya dan kearifan lokal ke tingkat nasional.
“Ini bukan hanya soal film, tapi juga soal mengangkat budaya, kearifan lokal, dan peluang-peluang lain. Kita perkenalkan Kalimantan Tengah dengan cara yang lebih humanis dan berbudaya,” ucapnya.
Gahara juga mengapresiasi keterlibatan aktor dan aktris lokal dalam produksi film tersebut. Menurutnya, hal itu bukan hanya membanggakan warga daerah, tetapi juga membuka ruang partisipasi pada industri kreatif. (*/Red 2)












