BANDA ACEH, BNN – Fenomena lubang raksasa menyerupai sinkhole di Desa Pondok Bali, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh terus meluas dan mengancam keselamatan warga.
Lubang itu telah menelan belasan hektare lahan perkebunan warga, memutus akses jalan utama serta jalan alternatif yang menghubungkan Kabupaten Aceh Tengah dengan Kabupaten Bener Meriah. Akibatnya, aktivitas masyarakat terganggu dan distribusi hasil pertanian terhambat.
Putusnya jalur utama memaksa warga memutar jauh untuk mencapai desa tetangga maupun pusat kecamatan. Jalan alternatif yang sempat dibangun setelah akses utama terputus kini ikut terkikis akibat perluasan lubang.
Sejumlah warga yang rumahnya berada di dekat titik retakan memilih mengungsi ke rumah kerabat demi menghindari risiko jatuhnya korban jiwa.
Warga menduga fenomena ini bermula dari aliran air parit yang terus mengikis tanah hingga membentuk lubang besar. Mereka berharap pemerintah segera menutup atau mengalihkan aliran air sebagai langkah darurat mencegah perluasan lubang.
Warga khawatir jika lubang terus melebar, permukiman dan lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan akan ikut hilang. Selain kehilangan akses jalan, mereka juga terancam kehilangan mata pencaharian.
Saat ini pemerintah setempat tengah mempersiapkan jalur alternatif baru agar mobilitas warga tetap berjalan. Namun masyarakat berharap ada solusi konkret dan cepat agar fenomena ini tidak terus meluas.
Sebelumnya, lubang raksasa muncul di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah usai terjadi longsor. Lubang itu diperkirakan mulai terbentuk sejak tahun 2000-an.
“Tidak ada literasi pasti yang menjelaskan awal mula terbentuknya lubang. Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Dimana pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak tahun 2004,” kata Kepala BPBD Aceh Tengah Andalika, Rabu (26//2/26).
Berdasarkan laporan masyarakat, katanya, longsoran yang terjadi di lubang itu meluas sehingga memutuskan akses jalan Blang Mancung-Simpang Balik pada 2006. Sejak itu, Dinas ESDM Aceh telah melakukan penelitian agar diketahui pergerakan tanah terus meningkat setiap tahun.
Menurutnya, data terbaru Dinas ESDM Aceh, luasan longsoran di lokasi telah mencapai 27.000 meter lebih dan kian dekat ke jalan lintas. Tim geologi dan survei geofisika ESDM Aceh juga pernah melakukan kolaborasi kajian longsoran tanah tersebut bersama BPBD Aceh Tengah pada tahun 2022.
Hasil kajian itu disebutkan longsoran tanah di Kampung Bah berada pada lapisan tanah permukaan dengan zona jenuh air dan didominasi material vulkanik yang mudah mengantarkan air. Pergerakan tanah di lokasi tersebut sangat aktif dan berkelanjutan.
“Wilayah longsoran tanah di Kampung Bah tersebut dikategorikan sebagai zona tinggi rawan pergerakan tanah, sehingga memerlukan penanganan struktural dan non struktural segera dan berkelanjutan,” jelas Andalika.
Andalika mengatakan, longsoran tanah yang terjadi di desa tersebut bukan jenis amblesan tanah sinkhole klasik yang terbentuk karena adanya lubang runtuh secara tiba-tiba. Longsoran terjadi karena pergerakan material tanah yang terjadi secara perlahan.
“Berdasarkan data dari ESDM Aceh, pergerakan tanah terus meningkat secara bertahap setiap tahun. Sejak tahun 2011 sudah dimulai pengukuran pertambahan luasan skala longsoran tanah oleh ESDM Aceh,” tukasnya. (*/Red 2)












