Kotawaringin Timur

Rusaknya Jembatan Menuju SMAN 1 Samuda jadi Ancaman Akses Bagi 600 Siswa

Avatar
8
×

Rusaknya Jembatan Menuju SMAN 1 Samuda jadi Ancaman Akses Bagi 600 Siswa

Sebarkan artikel ini

SAMPIT, BNN – Akses penghubung menuju SMA Negeri 1 Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), masih bergantung pada jembatan kayu ulin yang kondisinya disebut kini mengalami kerusakan.

Jembatan yang melintasi Sungai Sapihan Kecil tersebut menjadi jalur penting bagi sekitar 600 siswa dan guru untuk menuju sekolah. Kondisi konstruksi yang mulai rapuh membuat aspek keselamatan pengguna menjadi perhatian.

Kerusakan infrastruktur menuju sekolah ini memiliki dampak langsung terhadap aktivitas pendidikan. Setiap hari, siswa dan guru membutuhkan akses yang aman agar proses belajar mengajar berjalan tanpa hambatan.

Anggota DPRD Kotim, Zainuddin meminta pemerintah daerah segera melakukan penanganan terhadap jembatan itu. Menurutnya, sejumlah bagian konstruksi sudah mengalami kerusakan dan berpotensi membahayakan masyarakat yang melintas.

Kerusakan yang disoroti berada pada bagian material kayu serta komponen pengikat jembatan. Paku dan baut yang menjadi bagian dari struktur penguat disebut berisiko mengalami pelemahan sehingga dapat mengganggu keamanan pengguna.

Di sisi lain bagi para siswa, jembatan tersebut bukan sekadar fasilitas penghubung. Infrastruktur itu sudah menjadi bagian utama dari perjalanan harian menuju ruang belajar di sekolah mereka.

“Jembatan ini menjadi akses penting bagi siswa dan guru. Kondisi yang rusak perlu segera mendapat perhatian agar kegiatan pendidikan tidak menghadapi risiko keselamatan,” kata Zainuddin pada Minggu (11/10/26).

Jembatan Sungai Sapihan Kecil disebut telah digunakan selama puluhan tahun dengan konstruksi kayu ulin. Material tersebut dikenal memiliki daya tahan tinggi, tetapi tetap membutuhkan perawatan dan penggantian ketika mengalami kerusakan.

Persoalan jembatan di kawasan Mentaya Hilir Selatan tidak hanya terjadi pada satu titik. Sejumlah akses penghubung lain di wilayah tersebut juga mendapat perhatian karena berfungsi sebagai jalur mobilitas warga dan pelajar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan infrastruktur dasar masih menjadi kebutuhan penting di wilayah yang mengandalkan jembatan sebagai penghubung aktivitas masyarakat.

Zainuddin mendorong pemerintah daerah untuk segera memprioritaskan pembangunan jembatan yang lebih permanen apabila memungkinkan melalui perencanaan anggaran daerah.

“Yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya perbaikan sementara, tetapi kepastian solusi jangka panjangnya, agar jembatan yang menjadi akses warga dan pelajar ini menjadi lebih aman,” harapnya. (*/Red 2)