Kalimantan Tengah

Inflasi Kalteng Tertinggi di Kalimantan, Pemprov Perkuat Intervensi Pasar

Avatar
9
×

Inflasi Kalteng Tertinggi di Kalimantan, Pemprov Perkuat Intervensi Pasar

Sebarkan artikel ini

PALANGKA RAYA, BNN – Pemprov Kalimantan Tengah (Kalteng) akan memperkuat langkah pengendalian inflasi setelah daerah ini mencatat inflasi tertinggi di regional Kalimantan dan menempati peringkat keempat secara nasional.

Demikian ditegaskan Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yuas Elko, usai mengikuti Rakor Pengendalian Inflasi Tahun 2026 yang digelar Kemendagri secara virtual dari Kantor Gubernur Kalteng, Selasa (4/8/26).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Kalteng pada Juli 2026 mencapai 4,32 persen. Inflasi bulanan tercatat 0,23 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 2,63 persen.

Yuas mengatakan, capaian tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah sehingga diperlukan langkah pengendalian yang lebih komprehensif dan terukur.

“Berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah bersama Kemendagri hari ini, terdapat beberapa poin penting yang menjadi fokus perhatian Pemprov Kalteng,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mengidentifikasi komoditas penyumbang inflasi sekaligus mempercepat langkah intervensi.

“TPID akan memperkuat sinergi lintas sektor untuk memetakan komoditas penyumbang inflasi utama serta memastikan intervensi pasar berjalan lebih efektif,” katanya.

Selain itu, lanjut Yuas, Pemprov Kalteng akan terus memperluas pelaksanaan Gerakan Pasar Murah di kabupaten dan kota yang mengalami lonjakan harga bahan pokok.

“Gerakan Pasar Murah akan dimasifkan di seluruh kabupaten/kota, khususnya di wilayah yang mengalami lonjakan harga komoditas strategis sehingga manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri, Yusharto Huntoyungo menyebut, bahwa inflasi nasional hingga akhir Juli 2026 berhasil ditekan jadi 2,88 persen secara tahunan.

“Adapun capaian tersebut merupakan hasil sinergi pemerintah pusat dan daerah sejak pelaksanaan rapat koordinasi pengendalian inflasi pada Oktober 2022,” tuturnya.

Dalam rapat itu dipaparkan juga perkembangan harga pangan nasional. Komoditas bawang putih dan beras masih mengalami kenaikan di sejumlah daerah, sedangkan harga minyak goreng, daging sapi, cabai merah, dan udang relatif stabil. (*/Red 2)