General

Fenomena Edis TV, Beranjak dari Debat Teologi hingga Kontroversi

Avatar
19
×

Fenomena Edis TV, Beranjak dari Debat Teologi hingga Kontroversi

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, BNN – Seiring kemajuan teknologi digital, fenomena media sosial saat ini pun semakin menarik perhatian warganet. Banyak figur dari berbagai latar belakang dengan beragam konten, eksis berkreasi mendesain komalnya demi menuai sorotan publik.

Salah satu diantaranya adalah Edis TV, sebuah platform media sosial yang dikelola oleh Edi Sidabutar, seorang apologist atau pembela iman Kristen asal Indonesia yang saat ini ber-homebase di California, Amerika Serikat (USA).

Pria kelahiran Lampung, 17 September 1986 ini dikenal luas karena sering mengadakan siaran langsung (live streaming) di medsos guna berdebat mengenai teologi dan perbandingan agama, khususnya ajaran Islam dan Kristen.

Dalam berbagai diskusi antara Islam dan Kristen, banyak apologet yang bersebrangan dengan Edis TV dibuat tak berkutik lewat argumen dan logika yang ia beberkan. Begitupun perdebatan panas, tak kurang jumlahnya mewarnai komal Edis, sehingga menjadi menarik untuk diikuti.

Meskipun memiliki hampir sejuta pengikut, figur Edi Sidabutar memicu kontroversi besar. Banyak teolog dari gereja arus utama (mainstream) menilai beberapa argumennya telah menyimpang dari doktrin dasar kekristenan (dianggap sebagai bidat/heresi).

Bahkan, kritik tajam dari para imam Katolik dan pendeta lintas denominasi Protestan muncul karena beberapa argumen teologis Edis TV dinilai oleh para pengkritiknya telah bertentangan dengan pondasi iman Kristen yang fundamental.

Diantaranya, Edis TV melontarkan pernyataan kontroversial saat berdebat dengan apologet Muslim, bahwa penyaliban Yesus merupakan rancangan Iblis, bukan rencana pembunuhan dari Allah. Sebab menurutnya, tidak logis jika Allah merancang pembunuhan Putra-Nya sendiri.

Demikian pula dalam beberapa potongan diskusinya, Edis sering memakai logika yang justru dituding merendahkan ketuhanan Yesus saat berdiskusi, terutama ketika ia menyebut bahwa Tuhan Yesus punya Tuhan atau Yesus hamba Tuhan.

Demi memenangkan argumen di media sosial, anak ke-5 dari 6 bersaudara ini keukeuh pada prinsipnya dengan selalu mengedepankan dalil berdasarkan ayat-ayat Alkitab. Ia juga sempat dituduh condong ke arah paham Oneness (Unitarian) yang menolak doktrin Trinitas.

Tak sedikit umat Katolik dan Protestan menyampaikan kritik metode ‘dakwah’ Edis TV yang sering merendahkan ajaran Islam daripada fokus memberitakan kasih Kristen. Namun banyak pula yang mendukung ia membongkar ajaran Al-Qur’an dan Hadis.

Popularitasnya, dituding naik bukan karena kebenaran teologinya yang terkesan anti mainstream, melainkan karena memanfaatkan algoritma media sosial dan sentimen kelompok yang senang melihat konten perdebatan yang saling menyerang.

Namun, apapun kontroversi yang terjadi di tengah warganet, kanal Edis TV tetap menjadi pilihan bagi ribuan penonton yang mengaku terhibur dengan performa Edis Sidabutar dalam setiap siaran perdebatan teologis di komalnya. (*/Red 2)