BUNTOK, BNN – Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan (Barsel), mencatat grafik penderita ISPA terus melonjak tajam dalam tiga bulan terakhir, akibat paparan kabut asap dan emisi polutan lain yang merusak kualitas udara.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Barsel, dr Dadang Baskoro Nugroho, mengatakan bahwa kondisi alam saat periode kemarau ini menjadi salah satu faktor pemicu yang menyebabkan tingginya angka penyintas ISPA.
Berdasarkan data resmi Dinkes Barsel, tren kenaikan mulai terlihat signifikan pada Juli 2026 dengan angka mencapai 953 kasus, meningkat tajam dibandingkan data Juni yang sebelumnya hanya mencatatkan 584 kasus.
Kenaikan secara drastis, sebutnya kembali terjadi hingga Agustus 2026, dimana penderita gangguan saluran pernapasan tersebut melonjak hingga menyentuh angka 1.123 kasus.
“Kasus ISPA ini memang jauh lebih mudah menyebar, terutama di daerah-daerah yang terdampak langsung oleh bencana karhutla,” ujar Dadang di Buntok, Jumat (4/9/26).
Ia menjelaskan secara medis, ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan bagian atas, mulai dari hidung hingga pita suara maupun bagian bawah yang meluas dari pita suara hingga ke paru-paru.
Meski virus dan bakteri merupakan penyebab utamanya, paparan asap karhutla yang sarat mikropartikel berbahaya melipatgandakan risiko peradangan serta memperburuk kondisi kesehatan masyarakat secara luas.
Ia mengingatkan paparan asap dan polusi udara ini memicu risiko bahaya berlipat ganda bagi kelompok berisiko tinggi. Kelompok rentan yang dimaksud meliputi penderita penyakit respiratorik kronis, seperti asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) akibat kebiasaan merokok, tuberkulosis (TB) paru, serta penderita kanker paru.
Selain itu, penderita komorbiditas sistemik seperti diabetes, penyakit jantung, gagal ginjal, serta kelompok rentan lansia dan anak-anak berada dalam ancaman serius. Penurunan fungsi organ terjadi seiring bertambahnya usia membuat lansia sangat sensitif terhadap polutan.
“Lansia ikut menjadi kelompok rentan dengan risiko ISPA tinggi karena terjadi penurunan fungsi organ, termasuk saluran pernapasan, seiring dengan bertambahnya usia,” ujar Dadang.
Masyarakat diimbau agar senantiasa waspada terhadap gejala awal yang umumnya ditandai dengan batuk kering, pilek, serta iritasi pada hidung dan tenggorokan.
Apabila infeksi berlanjut dan memburuk, tubuh biasanya mulai merespons dengan timbulnya demam tinggi. Kemunculan dahak berwarna kekuningan menjadi indikator klinis bahwa telah terjadi infeksi bakteri sekunder di dalam tubuh.
Untuk kasus ISPA ringan yang dipicu paparan debu atau asap dalam durasi singkat, menurut Dadang kondisi kesehatan pasien secara umum dapat membaik dalam kurun tiga hingga lima hari.
Namun, masyarakat diminta untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti Puskesmas atau layanan primer terdekat apabila keluhan kesehatan tak kunjung mereda.
“Tanda-tanda ini seperti demam yang tidak turun, dahak semakin banyak dan berwarna kekuningan, sesak napas, mual, muntah, atau diare. Patokannya bukan ISPA dari infeksi virus atau bakteri itu mana yang paling berat, tetapi pada gejalanya,” jelasnya.
Langkah pencegahan ISPA perlu dilakukan, terutama bagi yang terdampak asap karhutla. Komplikasi ISPA bisa sangat serius bahkan bisa sebabkan kematian, seperti berhentinya fungsi paru-paru, kegagalan pernapasan akibat tingginya CO2 dalam darah, dan gagal jantung kongestif.
Guna menekan risiko gangguan pernapasan di tengah kabut asap karhutla, pihaknya mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan dan senantiasa mengenakan masker standar ketika beraktivitas di luar rumah.
“Batasi kegiatan di luar ruangan atau yang berhubungan langsung dengan paparan kabut asap dan gunakan masker jika terpaksa harus ke luar ruangan dan terpapar dengan kabut asap,” ingatnya.
Langkah antisipatif di lingkungan hunian, ketika kabut asap mulai masuk ke permukiman, masyarakat diimbau untuk menutup pintu dan jendela rumah. Cara ini dapat membantu mengurangi masuknya polutan dari udara luar ke ruangan.
Selain tindakan proteksi fisik, upaya pemulihan sistem imun melalui pemenuhan nutrisi seimbang yang kaya akan kalori, protein, lemak sehat, serta serat yang sangat krusial memperkuat benteng pertahanan tubuh dari radikal bebas dan polusi.
“Nah, yang paling sering kita kurang itu serat. Serat itu ada di sayur, ada di buah. Jadi enggak perlu kita sebenarnya harus mahal-mahal, cukup kita mengonsumsi sayur dan buah, seperti pepaya, pisang secara rutin,” kata Dadang.
Tubuh harus dijaga tetap terhidrasi dengan mengonsumsi air putih minimal 8 gelas atau 2 liter per hari. Asupan cairan yang memadai berfungsi menjaga kelembaban dan melindungi lapisan lendir di saluran pernapasan agar tetap bekerja optimal mengeluarkan partikel asing. Sementara penggunaan suplemen seperti vitamin C, masyarakat diminta mengkonsumsi secara bijak.
“Sebab suplemen itu tak ada yang seratus persen aman. Semuanya punya efek. Sama dengan misal konsumsi vitamin C. Kalau vitamin C terlalu berlebihan, bisa bikin masalah asam lambung. Kedua, bisa mempermudah pembentukan batu ginjal,” pungkasnya. (*/Red 2)












