Palangka Raya

Protes Dampak Blackout, Kantor PLN UP3 Palangka Raya Didemo Massa

Avatar
17
×

Protes Dampak Blackout, Kantor PLN UP3 Palangka Raya Didemo Massa

Sebarkan artikel ini

PALANGKA RAYA, BNN – Massa dari Gerakan Palangka Raya Gelap (GPG) Kalimantan Tengah (Kalteng) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Palangka Raya, Selasa (28/7/26).

Pendemo protes terhadap pemadaman listrik (blackout) yang dinilai masih terus berlangsung dan berdampak luas terhadap aktivitas masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dalam aksi tersebut, mereka membawa sejumlah spanduk berisi tuntutan agar PLN segera memberikan kepastian terkait kondisi sistem kelistrikan di Kota Palangka Raya. Para peserta aksi secara bergantian menyampaikan orasi terkait pemadaman listrik yang dinilai merugikan masyarakat.

Koordinator aksi, Joseph, menegaskan bahwa aksi yang pihaknya lakukan tiada lain untuk memperjuangkan hak masyarakat yang berdampak negatif akibat pemadaman listrik bergilir.

“Kami datang ke sini untuk menuntut hak-hak masyarakat yang selama ini dirugikan akibat kebijakan pemadaman listrik yang kami nilai dilakukan secara semena-mena,” serunya.

Ia juga meminta jajaran pimpinan PLN, khususnya General Manager, agar menemui massa dan memberikan penjelasan langsung mengenai penyebab serta solusi atas persoalan kelistrikan yang hingga kini masih terjadi.

“Kami berharap supaya General Manager PLN di Palangka Raya dapat menemui kami secara langsung dan menjelaskan kondisi yang sebenarnya,” tambah Joseph.

“Listrik padam bergilir, rakyat sangat dirugikan. Listrik adalah hak masyarakat. Pelayanan buruk PLN membuat rakyat kian menjerit,” teriak orator lainnya di hadapan massa aksi.

‎‎Massa menilai PLN tidak memberikan kepastian terkait jadwal pemadaman maupun informasi gangguan jaringan. Mereka mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem kelistrikan di Palangka Raya agar blackout tidak berkepanjangan.

‎‎‎Peternak Ayam Mengaku Rugi Besar

Sementara itu, perwakilan peternak ayam broiler, Satrio, dalam aksi unjuk rasa tersebut menyampaikan bahwa sektor peternakan menjadi salah satu yang paling terdampak akibat pemadaman listrik bergilir.

‎Ia menyebut, peternakan ayam modern menggunakan sistem close house, dan sangat bergantung pada energi listrik untuk mengoperasikan blower serta sistem sirkulasi udara di kandang.

‎“Listrik itu merupakan nyawa bagi ternak ayam. Ketika listrik padam, suplai oksigen dan udara di kandang pun menjadi terganggu. Akibatnya banyak ayam yang mati,” cetusnya.

‎Satrio menjelaskan, para peternak memang memiliki genset. Namun, genset hanya berfungsi sebagai cadangan dan tidak dirancang untuk menggantikan pasokan listrik PLN dalam waktu lama.

‎‎“Kalau terus mengandalkan genset, biaya operasional kami membengkak. Ujung-ujungnya harga produksi naik dan masyarakat selaku konsumen juga yang terdampak,” katanya.

‎Satrio mengaku pada pemadaman terbaru sekitar 400 ekor ayam miliknya mati, sementara pada periode sebelumnya kerugian mencapai ribuan ekor ayam.

‎‎“Kerugian kami sudah ratusan juta rupiah. Kami tetap membayar listrik tepat waktu, membeli token di muka, tetapi hak kami sebagai konsumen tidak kami rasakan,” tegasnya.

‎Bahkan saking kesalnya, beberapa peserta aksi mengancam akan membawa bangkai ayam mati untuk ditumpuk ke kantor PLN apabila tidak ada solusi konkret dari pihak perusahaan.

Massa ‎Aksi Ancam Demo Berlanjut

Perwakilan massa aksi lainnya, Fiteli Waruwu, mengatakan pemadaman listrik bergilir tidak hanya terjadi di Palangka Raya, tetapi juga berdampak di wilayah Kalteng dan Kalsel. ‎Ia menyebut massa menginginkan solusi konkret dari manajemen PLN

‎“Hari ini kami datang untuk aksi damai, tetapi GM (General Manager) tidak hadir menerima kami. Kami akan kembali besok (Rabu) pukul 10.00 WIB bersama masyarakat yang lebih banyak,” tegasnya.

‎‎Menurut Fiteli, tuntutan massa tidak hanya perbaikan layanan, tetapi juga mencakup evaluasi terhadap pimpinan PLN dan pemberian ganti rugi kepada masyarakat yang mengalami kerugian akibat pemadaman.

‎‎Massa juga melakukan penutupan sementara akses aktifitas di kantor PLN sebagai bentuk ekspresi ketidakpuasan. Fiteli menegaskan tindakan itu bukan penyegelan secara hukum, melainkan simbol mosi tidak percaya terhadap PLN.

‎“Kami meminta spanduk dan tulisan protes ini tidak dicopot, sampai kami kembali lagi melakukan aksi besok hari,” imbuhnya.

‎Aksi massa ini menjadi bentuk desakan agar PLN segera menghadirkan solusi konkret atas persoalan pemadaman listrik yang dinilai telah berdampak negati bagi perekonomian dan kehidupan warga. (*/Red 2)